Sabtu, 09 Januari 2016

Perbedaan dan Kelebihan Diploma dibanding Sarjana


          Orangtua zaman sekarang pun cenderung berpikir loyal, tipikal orang sukses di masa depan adalah bermodal kan ‘sarjana’ dan masuk pegawai negeri. Sebenarnya, dapat dikatakan pemikiran seperti itu masih terlalu sempit. Kita lihat saja sekarang, banyak sarjana – sarjana muda yang tidak langsung mendapat pekerjaan ketika mendapat gelar sarjana nya. Itu dikarenakan sarjana lebih menitik beratkan pada aspek analitis dengan 40 % praktik dan 60 % Teori. Dapat dikatakan lulusan Sarjana lebih diarahkan untuk dipakai sebagai pemikir, seperti melakukan penelitian ilmiah yang memungkinkan ditemukannya inovasi baru dalam bidangnya. Secara harfiah juga dapat dikatakan lebih cenderung ke arah loyalitas, image, dan individualisme, lebih cenderung pengejaran gelar ke pendidikan yang lebih tinggi sampai jenjang akademis Doktor.

          Ini merupakan suatu dilema yang mendalam, apakah memang selalu benar semakin tinggi pendidikan yang kita raih, semakin berkualitas skill kerja kita? Karena pada intinya seseorang dapat dikatakan sukses karena kehidupannya layak di dunia, dengan apa membeli kehidupan yang layak itu? Tentu saja dengan  uang dan  uang hanya akan didapat secara halal dengan jerih payah kita sendiri yaitu dengan ‘bekerja’. Seandainya didikan kita lebih cenderung pada aspek analitis dengan skill kerja yang kurang dari separuh, apa yang terjadi? Ya… Kemungkinan semakin banyak bos negara yang korupsi dan nepotisme di Indonesia .. hahaha

Selasa, 25 November 2014

Tugas 3 : Membuat Cerita Ulang


Kenangan
Dinda Fitri Ramadhani

            Ku mulai pagiku dengan membantu aktivitas bunda seperti biasa. Namun kali ini sedikit berbeda, karena bunda memintaku untuk menemaninya pergi ke pasar. Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun segera mengindahkan permintaan bunda.
            Karena letak pasar dengan kompleks rumahku cukup dekat, aku dan bunda memutukan untuk pergi ke pasar berjalan kaki saja. Hitung – hitung sekalian olahraga pagi juga. Sekitar 5 menit kemudian, akhirnya aku dan bunda sampai di pasar tradisional.
            Pergi ke pasar ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Itulah sebabnya aku belum mengetahui seluk beluk pasar tradisional ini. Aku pun mengikuti jejak bunda. Kemana bunda berjalan, tangan bunda dan tangan ku selalu berpegangan dengan erat. Dan disuatu saat, langkah bunda berhenti di sebuah kios sayur di dalam pasar. Karena kondisi pasar yang sangat ramai dan dikios sayur itu pembeli dipersilakan mengambil sayuran yang diinginkannya sendiri, maka bunda menyuruhku untuk menunggu sebentar.
            Sambil menunggu bunda memilih sayuran, aku mulai mengamati kondisi pasar tradisional ini. Banyak hal yang kulihat disini. Ada penjual sayur, penjual makanan ringan sampai makanan berat, penjual baju, penjual ikan, para pembeli yang sibuk kesana kemari untuk mencari apa yang mereka butuhkan masing – masing. Semua itu sangat menarik untuk dilihat.

Sabtu, 22 November 2014

Cerita Ulang



         Cerita ulang (recount) atau rekon adalah teks yang menceritakan kembali pengalaman masa lalu secara kronologis dengan tujuan untuk memberi informasi, atau menghibur pembacanya, atau bisa keduanya.
·             Cerita ulang terdiri atas tiga jenis, yaitu rekon pribadi, rekon faktual (informasional), dan rekon imajinatif.
  1.  Rekon pribadi adalah cerita ulang yang memuat kejadian di mana penulisnya terlibat secara langsung.
  2. Rekon faktual (informasional) adalah cerita ulang yang memuat kejadian faktual seperti eksperimen ilmiah, laporan polisi, dan lain-lain.
  3. Rekon imajinatif adalah cerita ulang yang memuat cerita imajinatif dengan lebih detil.

·         Suatu teks cerita ulang terdiri atas tiga bagian, yaitu:

  1. orientasi : informasi yang menjawab apa?, di mana?, siapa?, kapan?, dan mengapa?;
  2. rentetan peristiwa (events) : Isi cerita ulang atau Terjadinya Peristiwa
  3. reorientasi atau kesimpulan penulis akan kejadian-kejadian yang diceritakan ulang.
·         Teks cerita ulang dapat diubah menjadi teks lain sesuai dengan kebutuhan. Proses untuk mengubah teks cerita ulang menjadi bentuk teks lain dinamakan dengan istilah mengonversi. Dalam mengonversi cerita ulang menjadi teks lain, yang berubah hanya model teks, sedangkan bagian isi tetaplah sama.

·         Proses yang harus dilakukan dalam mengonversi teks cerita ulang adalah sebagai berikut
  1. membaca teks ulang secara keseluruhan
  2. mencermati pilihan kata (diksi) yang tepat dalam teks cerita ulang
  3. merangkum isi teks cerita ulang secara menyeluruh
  4. menentukan jenis teks apa yang digunakan sebagai konversi
  5. menulis ulang teks cerita ulang dalam bentuk lain
  6. merevisi bentuk teks baru jika memungkinkan ada kesalahan